Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)
Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)
Di tengah derasnya arus informasi dan dominasi digital, kita hidup dalam dunia paradoks: semakin banyak yang bisa diakses, semakin sedikit yang benar-benar diingat. Ingatan kolektif kita terfragmentasi oleh algoritma, digantikan oleh tren sesaat dan narasi yang dikurasi oleh kekuasaan. Di sisi lain, peningkatan kuantitas informasi tersebut tidak diikuti oleh peningkatan kemampuan mengingat atau menginternalisasi informasi secara mendalam. Sistem kerja otak manusia justru mengalami fragmentasi, terpecah-pecah oleh mekanisme algoritmik yang secara selektif menyajikan konten berdasarkan preferensi sesaat dan dinamika pasar digital.[1]
Fenomena ini semakin diperparah oleh dominasi narasi yang dikurasi dan dikontrol oleh aktor-aktor digital, yang sering kali mengutamakan kebutuhan tertentu daripada kebenaran atau kedalaman substansi. Secara neurobiologis, hal ini memiliki implikasi penting mengingat bahwa sistem neuron dalam sel-sel otak manusia memiliki kapasitas terbatas dalam memproses dan menyimpan informasi secara efektif. [2] Kita mengetahui bahwa Otak manusia bekerja sebagai jaringan dinamis yang mengalirkan informasi antar area untuk mendukung fungsi kognitif kompleks. Pola aliran ini mencerminkan kemampuan otak dalam memprediksi dan menyesuaikan fungsi kognitif, sehingga konfigurasi aliran informasi saat istirahat berkaitan dengan adaptasi otak terhadap tugas baru dan perubahan lingkungan.[3]
Dalam kasus mutakhir, pengguna Tik-Tok dengan durasi rata-rata penggunaan sekitar 2-8 jam per hari secara berlebihan menyebabkan penurunan produktivitas belajar sebesar 35% dan penurunan nilai akademik sekitar 12-15%, khususnya pada kegiatan yang memerlukan konsentrasi, misalnya seperti hafalan.[4] Atau penurunan kapasitas kognitif siswa akibat intensitas penggunaan handphone yang tinggi menghabiskan waktu rata-rata sekitar 4 jam per hari, yang selebihnya digunakan sebagai bentuk hiburan (55%) dibandingkan untuk belajar (18%). Ini mengindikasikan bahwa meskipun teknologi memiliki potensi edukatif, penggunaan handphone oleh siswa cenderung lebih dominan untuk aktivitas non-akademik.[5]
Selain itu, dalam lanskap digital yang hiperaktif, pola aliran informasi di otak tidak lagi hanya beradaptasi dengan tugas-tugas nyata, melainkan juga dengan tekanan sosial yang bersifat virtual dan terus-menerus. Fenomena FOMO ketakutan akan tertinggal dari apa yang sedang terjadi, mendorong otak untuk terus berada dalam mode siaga, memindai notifikasi, memperbarui feed, dan merespons impuls sosial yang tidak selalu relevan dengan kebutuhan kognitif aktual. Akibatnya, konfigurasi jaringan otak yang seharusnya mendukung pemrosesan reflektif dan pemaknaan mendalam, justru terjebak dalam siklus respons cepat yang dangkal. Dalam jangka panjang, ini dapat mengganggu keseimbangan antara fungsi prediktif dan fungsi restoratif otak, mengikis kemampuan untuk merenung, mengingat secara kontekstual, dan membangun narasi diri yang utuh.[6]
Justru itulah, ketika otak terus-menerus di arahkan untuk merespons rangsangan eksternal yang bersifat instan dan seragam, ruang bagi refleksi terhadap identitas budaya pun menyempit. Dalam kondisi ini, individu tidak hanya mengalami kelelahan kognitif, tetapi juga keterasingan dari akar budayanya sendiri. Ketakutan akan tertinggal dari tren global sering kali membuat warisan lokal di anggap usang, tidak relevan, atau bahkan memalukan. Bahasa daerah, nilai-nilai komunitas, dan praktik spiritual tradisional perlahan tergeser oleh standar budaya populer yang di kemas secara global. Ini bukan sekadar kehilangan pengetahuan, tetapi krisis integritas: ketika seseorang tidak lagi mengenali dirinya dalam sejarah, bahasa, atau nilai-nilai yang membentuknya.
Semua itu seakan di penjara oleh narasi kekuasaan yang menentukan apa yang layak di sebut modern, rasional, dan bernilai. Tidak hanya hadir dalam bentuk kebijakan atau kurikulum, tetapi juga meresap dalam algoritma, media, dan pola konsumsi budaya sehari-hari. Ia membentuk persepsi kolektif bahwa kemajuan harus berarti penyeragaman, bahwa keberhasilan harus mengikuti standar global, dan bahwa nilai-nilai lokal hanyalah sisa masa lalu yang romantis tapi tidak fungsional. Lebih dari itu, ingatan yang di wariskan mulai terabaikan, bahasa daerah sendiri nyaris terlupakan, cerita rakyat yang tak lagi di ceritakan, dan spiritualitas lokal yang di anggap usang. Selaras dengan apa yang di katakan Edward Said “Narratives are not neutral; they are instruments of power.” Maka yang terjadi bukan hanya penghapusan sejarah alternatif, tetapi juga pembungkaman potensi transformatif dari budaya itu sendiri.
Kita juga di perlihatkan dari kritik Edward Said terhadap kontruksi naratif Ernest Renan dalam karyanya Vie de Jésus, yang tidak sekedar menulis biografi religius, melainkan merekayasa kehidupan yang telah mati menjadi tampak hidup melalui teknik filologis dan retorika ilmiah. Genealogi, tradisi, agama, dan komunitas etnis di reduksi menjadi fungsi dari teori, bukan sebagai entitas hidup yang memiliki suara dan makna sendiri.
Di sinilah letak paradoksnya, narasi yang tampak jujur dan hidup justru lahir dari proses penghapusan dan penjinakan terhadap keragaman makna yang tidak sesuai dengan kerangka epistemik dominan. Maka, budaya yang di bentuk oleh narasi semacam itu bukanlah cerminan dari realitas plural, melainkan proyeksi dari hasrat untuk mengatur, mengklasifikasi, dan menguasai.[7]
Pramoedya Ananta Toer juga menggugat cara kekuasaan membentuk narasi budaya dan sejarah melalui proses penjinakan terhadap keragaman makna. Pram menunjukkan bagaimana sejarah Indonesia tidak di tulis sebagai cerminan dari pengalaman rakyat yang majemuk, melainkan sebagai konstruksi ideologis yang menyingkirkan suara-suara yang di anggap mengganggu stabilitas narasi resmi. Membentuk identitas nasional dengan mengabaikan atau menyingkirkan suara-suara yang tidak sesuai dengan agenda politik mereka. Bagi Pram “Sejarah telah di bungkam oleh kekuasaan. Yang tertulis hanyalah sejarah para penguasa.” Seperti Minke dalam buku Bumi Manusia yang di singkirkan karena di anggap berbahaya oleh rezim yang ingin mempertahankan struktur kekuasaan yang hierarkis dan anti-kritik.[8]
Memang pengetahuan tidak pernah netral. Ia lahir dari konteks, kepentingan, dan kekuasaan. Kita juga mengetahui bahwa dalam sejarah panjang kolonialisme, ilmu pengetahuan sering kali menjadi alat legitimasi dominasi, menyusun hierarki budaya dan membungkam suara lokal. Narasi sejarah yang di ajarkan di sekolah, misalnya, lebih banyak menyoroti tokoh-tokoh nasional yang telah “di resmikan”, sementara sejarah komunitas adat, perempuan, atau spiritualitas lokal nyaris tak terdengar. Apakah ini yang dinamakan kolonisasi Pengetahuan? Mengurung struktur epistemik dan mengabaikan keberagaman cara pandang.
Inilah wajah nyata dari amnesia budaya, ketika ingatan kolektif di konstruksi secara selektif, dan hanya sebagian kecil dari sejarah yang di beri ruang untuk hidup dalam kesadaran publik. Pengetahuan yang lahir dari kekuasaan tidak hanya menentukan apa yang di anggap penting, tetapi juga secara aktif melupakan apa yang tidak sesuai dengan narasi dominan. Dalam sistem pendidikan, misalnya, sejarah lokal yang kaya akan nilai-nilai spiritual, ekologis, dan sosial sering kali terabaikan demi menyusun kronologi nasional yang linear dan steril dari konflik. Tradisi lisan, mitos komunitas, dan praktik adat yang membentuk cara hidup masyarakat selama berabad-abad di anggap tidak ilmiah, tidak modern, dan tidak relevan.
Tom Nichols dalam buku The Death of Expertise, menjelaskan bahwa masyarakat saat ini sering kali hanya memiliki informasi yang dangkal atau salah, merasa setara dengan para ahli di bidangnya, sehingga terjadi erosi rasa hormat terhadap fakta, analisis logis, dan pemikiran kritis. Apalagi peran internet dan media sosial memperkuat kultur dengan menyebarkan informasi tidak kredibel, hoaks, dan konspirasi, yang membuat perdebatan publik terasa kacau dan merugikan pencapaian yang benar. Menurut Nichols, pakar adalah mereka yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mengetahui potensi kesalahan terburuk dalam bidangnya dan cara menghindarinya.[9]
Jika masyarakat semakin kehilangan kepercayaan terhadap otoritas intelektual, dan merasa cukup dengan pengetahuan instan yang dangkal, bagaimana kita dapat membangun ruang diskusi yang sehat, kritis, dan berbasis pada pemahaman yang mendalam? Apakah kita sedang menyaksikan kematian bukan hanya para ahli, tetapi juga kematian proses berpikir itu sendiri. Logika di gantikan oleh opini, dan fakta tergeser oleh emosi?
Pertama, kita harus berani memikirkan dalam menghadapi ledakan informasi yang berlimpah namun selektifitas otak terbatas, di perlukan penerapan strategi kritis dalam literasi informasi yang menekankan kemampuan memilah, menilai, dan menginterpretasikan sumber informasi secara cermat. Hal ini agar tidak terjebak dalam banjir informasi yang justru melemahkan kapasitas kognitif dan membuat neurotik otak karena overstimulasi. Meningkatkan pendidikan literasi digital yang berfokus pada pengembangan kapasitas berpikir kritis, evaluasi sumber, dan manajemen informasi menjadi kunci utama.[10] Menyelenggarakan pelatihan literasi digital sebagai penguatan kemampuan berpikir kritis, informasi kredibel serta mendeteksi hoaks dalam konten digital.[11]
Kedua, Upaya dekolonialisasi terhadap narasi sejarah nasional menuntut pembukaan ruang yang lebih luas bagi keberagaman perspektif, khususnya yang berasal dari sejarah lokal, kelompok minoritas, dan komunitas masyarakat adat. Langkah ini bukan sekadar revisi kurikulum atau penambahan konten alternatif, melainkan sebuah transformasi mendasar dalam cara kita memahami, mengajarkan, dan mendiskusikan sejarah sebagai konstruksi sosial dan politik.[12] Proses ini melibatkan keterlibatan aktif masyarakat dalam merumuskan ulang narasi sejarah yang lebih inklusif, adil, dan merepresentasikan kompleksitas pengalaman kolektif. Dalam konteks ini, media digital dan teknologi inovatif memainkan peran strategis, bukan hanya sebagai alat dokumentasi, tetapi juga sebagai medium distribusi yang mampu menjangkau audiens yang lebih luas dan lintas generasi.
Ketiga, fenomena amnesia budaya, yang sering kali merupakan konsekuensi dari proses kolonialisasi dan dominasi arus informasi global, telah menyebabkan terpinggirkannya pengetahuan lokal serta melemahnya kesadaran kolektif terhadap identitas budaya sendiri. Untuk mengatasi kondisi ini, di perlukan suatu pendekatan transformatif dalam sistem pendidikan, yakni melalui revitalisasi pendidikan berbasis budaya lokal yang berpadu dengan perspektif interkultural. Strategi ini mencakup pengintegrasian pengetahuan tradisional dan lokal ke dalam kurikulum pendidikan formal, pelestarian bahasa serta literatur asli sebagai medium ekspresi dan transmisi nilai-nilai budaya, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai alat dokumentasi dan diseminasi warisan budaya secara luas dan berkelanjutan.[13] Peran pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan global, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kesadaran identitas dan penghargaan terhadap kekayaan pemikiran alternatif yang bersumber dari tradisi lokal. Harapannya, masyarakat akan mampu menavigasi dunia global dengan tetap berpijak pada akar budaya sendiri, menjadikan keberagaman sebagai kekuatan intelektual dan spiritual dalam membangun masa depan yang inklusif dan berkeadilan.[14]
Sederhananya, secara keseluruhan, terobosan ini selayaknya dapat memberikan sinergi antara pendidikan literasi kritis, penguatan ilmiah, dan revitalisasi sejarah dan budaya lokal sebagai fondasi untuk mengatasi wajah baru kolonialisasi pengetahuan. Artinya, langkah ini sekaligus merespon dampak negatif sejarah kolonialisme berupa ketergantungan pada pengetahuan dan teknologi kolonial yang pernah mengikis IPTEK lokal dan budaya tradisional. Dengan menciptakan ekosistem pengetahuan yang inklusif dan berdaya, tantangan modern terhadap kualitas pengetahuan dapat teratasi dengan tetap menghormati keberagaman dan kearifan lokal.
[1] Ira Lusiawati, “Pengembangan Otak Dan Optimalisasi Sumber Daya Manusia,” Tedc 11, no. 2 (2017): 162–71.
[2] Sri Handayani, Anatomi Dan Fisiologi Tubuh Manusia (Bandung: CV. MEDIA SAINS INDONESIA, 2021), 43.
[3] Oliver Y. Chén et al., “Resting-State Brain Information Flow Predicts Cognitive Flexibility in Humans,” Scientific Reports 9, no. 1 (2019): 1–16, https://doi.org/10.1038/s41598-019-40345-8.
[4] Nurul Ahmat Fauzi, and Surawan, “Tiktok Brain: Efek Video Pendek Pada Daya Konsentrasi Mahasiswa Pendidkan Agama Islam Iain Palangka Raya,” Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik 2, no. 3 (2025): 576–87, https://doi.org/10.61722/jmia.v2i3.5006.
[5] Volume Nomor, Feri Irawan, and Muad Dinoto, “Fenomena Brain Rot Dampak Penggunaan Handphone Berlebihan Pada Prestasi Matematika Siswa Sekolah Menengah Atas Brain Rot : The Effect of Overuse of Mobile Phones on High Schoolers ’ Math Performance” 2 (2024): 241–51.
[6] Taty Fauzi and Leo Fredian, “Dampak Sosial Media Terhadap Syndrom Fomo Pada Perilaku Remaja,” POTENSI Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 1, no. 4 (2024), https://journal.feb.undaris.ac.id/index.php/PotensiAbdimas.
[7] Edward W. Said, Orientalism, Jews, Christians, and the Abode of Islam (New York: Random House, 2013), 146. https://doi.org/10.7208/chicago/9780226471099.003.0001.
[8] Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia (Jakarta: Hasta Mitra, 1980), http://www.archive.org/details/bumimanusiasebuaOOtoer.
[9] Tom Nichols, The Death Of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why It Matters, Proceedings of the National Academy of Sciences, vol. 3 (New York: Oxford University Press, 2017), https://doi.org/9780190469412.
[10] Aisyah Jiyantika Gitadewi, “Optimizing Digital Literacy Through Problem-Based Learning Models to Improve Student’s Critical Thinking Skills,” International Journal of Current Educational Research 3, no. 2 (2024): 110–23, https://doi.org/10.53621/ijocer.v3i2.379.
[11] Widyapuri Prasastiningtyas et al., “Improving Literacy in the Digital Age: Unleashing Critical Thinking Potential,” Toplama 2, no. 1 (2024): 18–27, https://doi.org/10.61397/tla.v2i1.218.
[12] Najwa Dias Cahyaningsih, Ratna Nur Wijayanti, and Masduki Asbari, “Melawan Amnesia Historis: Mewarisi Sejarah, Membangun Peradaban,” JOURNAL OF INFORMATION SYSTEMS AND MANAGEMENT 04, no. 02 (2025): 40–44.
[13] Tema Milstein, “Cultivating Care through Culture and Education,” Environmental Communication 18, no. 1–2 (2024): 216–22, https://doi.org/10.1080/17524032.2023.2299752.
[14] Lihua Feng, “Development and Utilization of Local Characteristic Culture in Community Education” 7 (2025): 40–45, https://doi.org/10.23977/jsoce.2025.070106.