Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)
Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)
Penjelasan tentang buku The End of History and the Last Man ini memperluas dari esai terkenalnya yang berjudul “The End of History” yang mengargumentasikan bahwa runtuhnya komunisme menandai akhir evolusi ideologi manusia. Sejarah manusia bersifat directional (berarah) menuju demokrasi liberal dan kapitalisme sebagai bentuk akhir pemerintahan dan masyarakat. Sedangkan dua kekuatan utama mendorong Sejarah. Pertama, logika sains modern (rasionalitas ekonomi yang memenuhi keinginan) dan perjuangan untuk pengakuan (Struggle for recognition atau thymos dari gagasan Hegel), yang merupakan motor Sejarah.
Demokrasi liberal memuaskan keduanya melalui pengakuan universal atas hak-hak manusia dan kemakmuran ekonomi. Namun, Fukuyama sendiri masihlah mempertanyakan Apakah manusia terakhir (The Last Man dari gagasan Nietzsche) dalam struktur masyarakat ini akan puas sepenuhnya, atau justru bosan dan memicu kekacauan baru karena kurangnya outlet untuk ambisi thymotic.
Bagian I Demokrasi Liberal
Pada bagian awal pembahasan, Fukuyama mempertegas pertanyaannya yang telah lama di ajukan kembali tentang pesimisme kita (Our Pessimism). Fukuyama selalu mengkritik pesimisme orang-orang Barat pasca Perang Dunia II, di mana banyak dari kalangan intelektual meragukan kemajuan manusia. Ia menunjukkan bahwa abad ke XX sebenarnya membawa kemajuan menuju demoksari liberal, meskipun kemunduran seperti fasisme dan komunisme kiat terjadi.
Sedangkan negara-negara kuat seperti Uni Soviet gagal karena kontradiksi internal, karena ketidakefisienan ekonomi dan kurangnya legitimasi. Demokrasi liberal lebih stabil karena membatasi kekuasaan negara dan melindungi hak individu. Selain itu, Revolusi liberal global misal, jatuhnya komunisme di Eropa Timur menunjukkan konsensus universal bahwa demokrasi liberal adalah bentuk pemerintahan terbaik tanpa saingan ideologi serius.
Bagian II Dorongan Ekonomi
Bagian kedua dari buku ini berkaitan dengan Usia Tua Umat Manusia (The Old Age of Mankind), di mana sejarah manusia berarah seperti yang di usulkan oleh Kant dan Hegel, dengan menuju kebebasan rasional melalui evolusi masyarakat dari primitif ke modern. Mekanisme keinginan di dorong dari motivasi ekonomi dan keinginan tak terbatas untuk memenuhi kebutuhan, yang menghasilkan akumulasi kekayaan tanpa akhir.
Selanjutnya, No Barbarians at the Gates, bahwasannya tidak ada ancaman eksternal signifikan terhadap demokrasi liberal. Kemajuan teknologi dan pendidikan mendorong masyarakat kelas menengah yang mendukung stabilitas demokrasi.
Pendidikan dan Demokrasi (In the Land of Education, No Democracy without Democrats) merupakan Pendidikan universal yang menciptakan masyarakat rasional dan mendukung demokrasi, tetapi demokrasi memerlukan warga yang berkomitmen (democrats), bukan hanya institusi formal.
Bagian III Pengakuan
Bagian ke tiga dalam buku ini ialah membahas perjuangan untuk pengakuan “The Struggle or Recognition”. Tampaknya Fukuyama ingin memperlihatkan bagaimana pertarungan untuk prestise (In the Beginning, a Battle to the Death for Pure Prestige), di mana sejarah di mulai dari pertarungan berdarah agar supaya mendapatkan pengakuan, menjadikan manusia ingin di akui sebagai yang superior (thymos). Dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa Thymos adalah dorongan utama manusia, dan bahkan melebihi keinginan berekonomi, termasuk memiliki ambisi penuh, kemarahan, dan pencarian keadilan.
Fukuyama juga memerhatikan kenaikan dan kejatuhan Thymos (The Rise and Fall o Thymos, yakni mendorong konflik (seperti suara nasionalisme), tetapi dalam demokrasi liberal, ia di sublimasikan menjadi pengakuan yang egaliter. Sedangkan posisi negara yang universal dan homogen adalah bentuk akhir sejarah suatu negara yang mengakui semua manusia secara universal melalui hak-hak, dan mengakhiri pertarungan tuan-budak.
Dalam bagian ke empat yang berjudul “Melompati Rhodes,” Francis Fukuyama mengulas kompleksitas tata kelola modern dan ambisi manusia, menggambarkan negara kontemporer, meniru gambaran Nietzsche sebagai “monster terdingin di antara semua monster dingin”. Ini sebagai entitas yang tampaknya impersonal dan birokratis, namun pada dasarnya menyediakan kerangka kerja terstruktur untuk pengakuan thymotic melalui jalur seperti kerja dan nasionalisme. Ia kemudian mengeksplorasi asal-usul thymotic dari pekerjaan, menegaskan bahwa pekerjaan melampaui sekadar pemenuhan keinginan untuk mencakup pencarian mendalam akan pengakuan, seperti yang terlihat dalam kapitalisme Asia di negara-negara seperti Jepang yang memanfaatkan thymos kolektif untuk mendorong produktivitas berorientasi kelompok.
Fukuyama kemudian menganalisis kerajaan-kerajaan kebencian dan ketaatan, menggambarkan nasionalisme sebagai ekspresi irasional dari thymos sambil mengkritik realisme politik yang mengabaikan pengakuan sebagai sumber utama konflik internasional. Pada akhirnya, ia menyoroti kekuatan mereka yang lemah, menggambarkan bagaimana transformasi sosial sering muncul dari tingkat akar rumput, seperti yang terlihat di Eropa Timur, di mana thymos rakyat mengalahkan rezim otoriter.
Bagian IV Last Man
Kemudian pada bagian akhir, dalam bayang-bayang “Manusia Terakhir (The Last Man),” kita memasuki alam kebebasan yang paradoksal, di mana sejarah telah mencapai puncaknya, dan manusia menikmati kebebasan tanpa batas, namun justru terancam oleh kebosanan karena tiadanya perjuangan besar yang membakar semangat. Menjadikan warga demokrasi liberal menjadi “manusia tanpa dada,” makhluk rasional yang puas secara materi namun kehilangan thymos heroik, kekosongan spiritual yang tak terisi oleh konsumsi semata.
Meskipun demokrasi liberal menjanjikan kebebasan, ia tetap menyisakan ketidaksetaraan, namun ini bukan ancaman utama. Yang lebih berbahaya adalah megalothymia, yakni ambisi berlebih yang tak terpuaskan, yang menggerogoti stabilitas dari dalam. Jika manusia terakhir tidak lagi puas, maka “perang roh yang dahsyat” bisa meletus, membuka kembali sejarah yang telah di anggap selesai. Meski demikian, Fukuyama tetap optimis. Karena baginya demokrasi liberal, dengan segala kekurangannya, adalah bentuk politik yang paling stabil dan menjanjikan bagi masa depan umat manusia.
Kritik pada buku “The End of History, and The Last Man.”
Fukuyama menyoroti optimisme berlebihan dan bias Eurocentris yang melekat dalam pandangannya. Ia mengasumsikan bahwa demokrasi liberal adalah bentuk final dan universal dari evolusi politik manusia, namun gagal mengakui ketahanan dan daya tarik budaya non-Barat seperti Islam politik atau Konfusianisme Asia, yang menawarkan alternatif nilai dan struktur sosial yang tidak sepenuhnya kompatibel dengan liberalisme Barat. Dalam bagian tentang nasionalisme dan agama, Fukuyama memang mengakui bahwa thymos (hasrat akan pengakuan), dapat memicu konflik baru, namun ia tetap yakin bahwa demokrasi liberal akan menang dalam jangka panjang.
Namun, perkembangan global pada tahun 2025 menunjukkan bahwa sejarah belum berakhir. Kebangkitan otoritarianisme di China dan Rusia, serta gelombang populisme di Barat seperti Trumpisme, memperlihatkan bahwa megalothymia dan bentuk-bentuk pengakuan yang tidak liberal masih memiliki daya tarik besar. Fenomena ini menantang asumsi bahwa liberalisme dapat secara otomatis menyerap atau mengatasi semua bentuk perlawanan budaya dan politik. Justru, ia menunjukkan bahwa sejarah tetap terbuka, tergerakkan oleh konflik identitas, tuntutan pengakuan, dan ketegangan antara kebebasan dan tradisi. Dalam konteks ini, “manusia terakhir” bukanlah akhir, melainkan titik transisi yang rapuh dan penuh kemungkinan.
Salah satu kelemahan mendasar dalam gagsan Fukuyama adalah minimnya perhatian terhadap ketidaksetaraan ekonomi yang terus memburuk di bawah kapitalisme global. Meskipun buku ini menekankan pentingnya pengakuan thymotic hasrat akan kehormatan dan pengakuan sebagai pendorong sejarah, ia kurang menggali bagaimana sistem ekonomi liberal justru memperdalam jurang antara kaya dan miskin. Di Bagian akhir, Fukuyama memang menyebut bahwa ketidaksetaraan dalam demokrasi liberal bisa teratasi, namun ia tidak memberikan analisis struktural yang cukup tentang bagaimana kapitalisme modern menciptakan konsentrasi kekayaan dan menggerus fondasi solidaritas sosial.
Kritikus seperti Thomas Piketty menyoroti hal ini sebagai “kontradiksi yang tak terselesaikan.” Demokrasi liberal menjanjikan kesetaraan politik, tetapi membiarkan ketimpangan ekonomi yang ekstrem, yang pada akhirnya bisa mengancam legitimasi dan stabilitas sistem itu sendiri. Ketika pengakuan thymotic tidak lagi tersedia melalui kerja atau partisipasi politik karena hambatan ekonomi yang sistemik, maka ruang bagi megalothymia, populisme, dan bahkan otoritarianisme semakin terbuka. Dalam konteks ini, pengabaian terhadap dimensi ekonomi bukan hanya kekurangan analitis, tetapi juga risiko historis yang nyata.
Kemudian salah satu celah kritis dalam argumen Fukuyama adalah pengabaian terhadap ancaman internal yang menggerogoti demokrasi liberal dari dalam. Meskipun ia mempertanyakan apakah “manusia terakhir” akan benar-benar puas dalam dunia pasca-sejarah, ia tidak cukup mengantisipasi bagaimana relativisme nilai termasuk warisan pemikiran Nietzsche dapat melumpuhkan fondasi normatif demokrasi itu sendiri. Dalam masyarakat yang kehilangan kompas moral bersama, kebenaran menjadi relatif, dan ruang publik terfragmentasi oleh narasi-narasi yang bersaing tanpa titik temu.
Fenomena ini kini tampak nyata dalam polarisasi ekstrem di media sosial, penyebaran hoaks, dan krisis kepercayaan terhadap institusi. Demokrasi liberal, yang bergantung pada diskursus rasional dan konsensus nilai, justru terancam oleh banjir informasi yang tidak terverifikasi dan algoritma yang memperkuat bias. Dalam konteks ini, “manusia terakhir” bukan hanya bosan, tetapi juga rentan terhadap manipulasi, kehilangan orientasi, dan mudah terjerumus dalam tribalisme digital.
Fukuyama tetap optimis bahwa demokrasi liberal akan bertahan, namun ancaman internal ini menunjukkan bahwa stabilitas bukanlah jaminan, melainkan tugas yang terus-menerus. Tanpa revitalisasi nilai bersama dan penguatan literasi digital serta etika publik, demokrasi bisa runtuh bukan karena serangan dari luar, tetapi karena erosi dari dalam.
Terakhir, metodologi yang digunakan oleh Fukuyama dikenal merupakan sifat historisitasnya yang kontroversial. Dengan mengandalkan kerangka filosofis Hegel dan interpretasi Alexandre Kojeve, Fukuyama membangun argumen bahwa sejarah memiliki arah teleologis menuju demokrasi liberal sebagai bentuk akhir dari evolusi politik manusia. Namun pendekatan ini dinilai terlalu spekulatif dan kurang berbasis pada data empiris. Ia lebih menyerupai narasi metafisik ketimbang analisis historis yang konkret.
Banyak kritikus menolak gagasan bahwa sejarah bergerak secara linear dan progresif. Realitas sejarah jauh lebih kompleks, penuh dengan lompatan, kemunduran, dan kontingensi yang tidak bisa dijelaskan hanya melalui dialektika ide. Ketika Fukuyama menyatakan bahwa “akhir sejarah” telah tiba, ia mengabaikan dinamika lokal, resistensi budaya, dan kekuatan material yang terus membentuk dunia secara tak terduga. Dalam hal ini, analisisnya lebih menyerupai filsafat spekulatif daripada teori sosial yang dapat teruji.
Sebagai hasilnya, meskipun narasi Fukuyama menggugah secara intelektual, ia rentan terhadap kritik karena tidak cukup memperhitungkan keragaman jalur sejarah dan kemungkinan bahwa demokrasi liberal bukanlah satu-satunya atau bahkan bentuk politik yang paling adaptif dalam menghadapi tantangan masa depan.