Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)
Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)
01 Nov 2025 Bacaan

Review Buku Ibu Kota Majapahit: Masa Kejayaan, dan Pecapaian Karya Agus Aris Munandar

Sketsa Patih Gaja Mada

Penulis: Valentino Dwi Figo H.

Di negeri yang dibentuk oleh lapisan-lapisan peradaban kuno, Indonesia menyimpan jejak sejarah yang luar biasa kaya. Namun, dalam arus deras modernisasi dan ambisi pembangunan, kita kerap terjebak dalam narasi masa kini yang melupakan akar-akar terdalam dari jati diri bangsa. Ketika hiruk-pikuk pembangunan Ibu Kota Nusantara menggema di berbagai sudut wacana, membaca Ibukota Majapahit: Masa Jaya dan Pencapaian karya Agus Aris Munandar terasa seperti membuka jendela ke masa silam, sebuah undangan untuk berhenti sejenak dan merenung.

Bagaimana mungkin, pada abad ke-14, sebuah kerajaan mampu merancang pusat kekuasaan yang tidak hanya megah secara arsitektural, tetapi juga selaras dengan alam dan spiritualitas? Buku ini, yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2008, bukan sekadar kumpulan makalah seminar yang diperbarui. Ia adalah upaya intelektual yang jernih dan berani untuk menggugat cara kita memandang Majapahit, bukan sebagai mitos kejayaan semata, melainkan sebagai model peradaban yang mengintegrasikan kekuatan, kebijaksanaan, dan keharmonisan.

Sebagai pembaca yang terpesona oleh sejarah Jawa, saya merasakan bahwa karya Munandar ini lebih dari sekadar kontribusi akademis. Ia adalah panggilan batin, sebuah ajakan untuk belajar dari masa lalu, bukan demi nostalgia, tetapi demi membentuk masa depan yang lebih arif. Di tengah transformasi besar yang sedang berlangsung, barangkali kita perlu kembali menengok Majapahit: bukan untuk mengulang, tetapi untuk memahami bagaimana sebuah peradaban bisa tumbuh dengan jiwa yang utuh.

Baca juga: Kerajaan Airlangga

Agus Aris Munandar, seorang sejarawan dan arkeolog yang telah lama menekuni jejak-jejak peradaban kuno Indonesia, menyusun bukunya Ibukota Majapahit: Masa Jaya dan Pencapaian dalam tiga bab utama yang saling melengkapi. Dengan total x + 161 halaman yang padat namun tetap mudah di cerna, buku ini bukan sekadar paparan akademis, melainkan sebuah perjalanan intelektual dan spiritual ke jantung peradaban Jawa abad ke-14.

Bab pertama, Majapahit in History

Majapahit Dalam Sejarah

membuka lanskap kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Rājasanāgara nama agung bagi Hayam Wuruk (1350–1389 M). Di tangan Munandar, era ini bukan hanya di pahami sebagai puncak kekuasaan politik, tetapi sebagai titik temu antara kekuasaan duniawi dan dimensi sakral. Ia mengajak kita melihat Majapahit bukan semata sebagai kerajaan militer yang ekspansif, tetapi sebagai pusat spiritual yang merawat hubungan antara manusia, alam, dan yang ilahi.

Munandar membuka Bab I dengan sebuah penegasan yang kuat: masa pemerintahan Rajasanagara, atau yang lebih terkenal sebagai Hayam Wuruk, adalah puncak kejayaan Majapahit. Di bawah kepemimpinannya, Majapahit tak hanya tampil sebagai kekuatan militer yang di segani, tetapi juga menjelma menjadi pusat budaya dan ekonomi yang memikat Asia Tenggara.

Namun, yang menarik dari pembacaan Munandar adalah penolakannya terhadap narasi kejayaan yang terbangun di atas konflik berdarah. Sepanjang periode itu, hanya satu insiden besar yang tercatat: tragedi Pasundan-Bubat pada tahun 1357 M, ketika Raja Pasundan tewas dalam kunjungan diplomatik ke Majapahit. Di luar itu, stabilitas politik menjadi fondasi utama. Tidak ada perebutan kekuasaan internal yang merusak, dan relasi eksternal dengan wilayah taklukan lebih banyak di warnai diplomasi daripada dominasi.

Armadanya tidak berlayar untuk menaklukkan, melainkan untuk menjalin muhibah. Utusan asing datang bukan karena takut, tetapi karena kagum. Inilah wajah Majapahit yang jarang di bicarakan: sebuah kerajaan yang mengandalkan daya tarik, bukan tekanan; yang membangun pengaruh melalui perdagangan maritim yang luas, bukan ekspansi paksa.

Lebih jauh, Munandar menyoroti aspek hukum sebagai fondasi kejayaan Majapahit yang sering luput dari sorotan. Melalui Prasasti Bendasari dan Trowulan, ia menunjukkan bagaimana kitab Kutaramanawadharmasastra menjadi rujukan hukum pidana dan perdata yang progresif untuk zamannya. Salah satu pasalnya Pasal 207 menetapkan hukuman mati bagi siapa pun yang menyentuh seorang gadis tanpa izin. Di abad ke-14, ini bukan sekadar norma, melainkan bentuk perlindungan perempuan yang luar biasa maju.

Di sisi lain, ekonomi Majapahit tumbuh melalui jaringan perdagangan maritim yang luas, sementara kekuatan militer di pimpin oleh figur legendaris seperti Patih Gajah Mada. Melalui Sumpah Palapa-nya, ia bukan hanya mengukir sejarah, tetapi merealisasikan visi persatuan Nusantara yang melampaui ambisi pribadi.

Bayangkan jika para pemimpin kita hari ini mengadopsi pendekatan serupa. Bukan lagi konflik wilayah yang menguras energi, melainkan diplomasi yang membangun kepercayaan. Bukan sekadar pembangunan fisik, tapi peradaban yang berakar pada nilai, hukum, dan visi kolektif. Majapahit mengajarkan bahwa kejayaan bukan soal dominasi, tapi tentang bagaimana sebuah bangsa mampu merawat jiwa dan struktur sosialnya secara bersamaan.

Karena bagi saya, ini adalah pelajaran yang sangat relevan. Kejayaan sejati lahir dari soft power dari kemampuan untuk menginspirasi, bukan menundukkan. Jelas sudah narasi seperti ini mengingatkan kita bahwa kekuatan yang berakar pada stabilitas, dialog, dan keterbukaan jauh lebih tahan lama daripada kekuasaan yang di bangun di atas konflik

Pertemuan Dunia Manusia dan Alam Kedewataan: Sakralitas sebagai Jembatan Kekuasaan

Memasuki subbagian kedua, Munandar mengajak kita menyelami bagaimana Majapahit merancang kekuasaannya bukan hanya di atas fondasi politik dan ekonomi, tetapi juga melalui jalinan spiritual yang mendalam. Ia menunjukkan bahwa kerajaan ini tidak sekadar membangun istana dan benteng, melainkan menciptakan ruang-ruang sakral yang menjadi jembatan antara dunia fana dan alam ilahi.

Artefak-artefak era Singhasari-Majapahit, bangunan suci, arca, dan relief candi bukanlah sekadar ”pajangan”. Mereka adalah medium simbolik yang memancarkan dimensi sakral dalam kekuasaan. Munandar mengangkat pupuh 69 (1–3) dari Nagarakrtagama, yang menggambarkan Prajñaparamitapuri, bangunan suci untuk Rajapatni, nenek Hayam Wuruk. Di sebut sebagai “permata dunia”, tempat ini di bangun oleh pendeta Jñanawidya, seorang ahli Tantragata yang di gambarkan mirip Mpu Bharada. Di sini, arca bukan hanya patung, tetapi perwujudan dewi yang melambangkan kesucian dan kekuasaan perempuan kerajaan.

Relief-relief candi memperkaya narasi ini. Di Candi Jago, Panataran, Surawana, dan Tegowangi, kisah Bhubuksah-Gagangaking, Parthayajna, Panji, dan Sudhamala terabadikan dalam batu. Mereka bukan sekadar ornamen, melainkan alat edukasi spiritual yang menyebarkan nilai budaya dan literasi visual kepada masyarakat. Dalam interpretasi Munandar, relief ini menjadi penghubung antara manusia dan kedewataan, menjadikan raja bukan hanya sebagai pemimpin duniawi, tetapi juga sebagai representasi ilahi.

Bagi saya, ini adalah gugatan halus terhadap sekularisme modern. Majapahit menunjukkan bahwa spiritualitas bukan penghalang kemajuan, melainkan fondasi peradaban. Ketika kekuasaan di integrasikan dengan nilai sakral, lahirlah tata kelola yang tidak hanya efisien, tetapi juga bermakna. Di tengah urbanisasi kontemporer yang sering kehilangan jiwa, relief-relief ini mengingatkan kita bahwa peradaban besar tidak di bangun di atas dominasi materi semata, melainkan dari keseimbangan antara dunia dan kedewataan antara logika dan rasa, antara kekuasaan dan kesucian.

Secara keseluruhan, Bab I Munandar adalah panggilan untuk merevitalisasi sejarah sebagai inspirasi. Kejayaan Rajasanagara mengajarkan bahwa stabilitas dan diplomasi lebih kuat daripada perang, sementara elemen sakral menekankan pentingnya spiritualitas dalam kekuasaan. Di tengah krisis identitas bangsa, karya ini menggugat kita: apakah ibu kota baru kita akan sekadar beton, atau akan meniru Majapahit dengan harmoni manusia-dewa? Munandar telah membuktikan, sejarah bukan masa lalu ia adalah blueprint masa depan.

Bab kedua, Changing the Old Paradigm

Mengubah Paradigma Lama

adalah titik balik yang paling mengguncang dalam buku Munandar. Di sini, ia tidak sekadar menulis sejarah, ia menggugatnya. Dengan keberanian intelektual yang jarang di temui, Munandar menantang asumsi lama bahwa istana Majapahit berada di Trowulan, sebuah klaim yang telah lama di terima begitu saja dalam historiografi arus utama.

Berbekal deskripsi Mpu Prapañca dalam Nāgarakṛtāgama, Munandar mengusulkan reinterpretasi yang radikal namun berakar dalam tradisi lokal. Ia menghidupkan kembali konsep sanga mandala (delapan arah suci) dalam kosmologi Jawa-Bali dan orientasi geografis seperti kelod-kaja (laut-gunung) yang menjadi penanda spiritual dan ekologis dalam tata ruang Nusantara. Menurutnya, penggambaran istana oleh Prapañca tidak selaras dengan temuan fisik di Trowulan, yang lebih menyerupai kompleks perumahan atau taman kerajaan daripada pusat kekuasaan utama.

Bagi saya, ini bukan sekadar argumen arkeologis. Ini adalah pukulan telak terhadap cara kita selama ini membaca sejarah terlalu bergantung pada lensa Eropa-sentris, terlalu cepat menyimpulkan tanpa mendengar suara tanah dan tradisi kita. Munandar tidak hanya mengubah peta sejarah Majapahit, ia juga mengubah cara kita memandang ruang, kekuasaan, dan warisan.

Dan pertanyaannya yang tersirat begitu tajam,  ketika kita merancang ibu kota baru Nusantara, apakah kita masih terjebak dalam paradigma kolonial yang mengabaikan kearifan lokal? Apakah kita masih membangun dengan logika dominasi, bukan harmoni? Munandar mengajak kita untuk melihat bahwa membangun bukan hanya soal beton dan rancangan, tapi soal jiwa dan arah. Bahwa tanah ini punya bahasa sendiri, dan sejarahnya bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk didengarkan.

Bab ketiga, Literary Works and Their Interpretation

Karya Sastra dan Tafsirnya

menjadi penutup yang menyempurnakan narasi Munandar dengan lensa sastra yang intim dan penuh makna. Di sini, sejarah tidak lagi hanya berbicara lewat batu dan prasasti, tetapi melalui kata-kata yang di wariskan dari generasi ke generasi. Munandar menelusuri karya-karya Jawa kuno untuk mengungkap denyut kehidupan sehari-hari masyarakat Majapahit dari ritual keagamaan hingga tata ruang kota, dari simbolisme arsitektur hingga etika sosial yang mengatur interaksi warga.

Puncak dari bab ini adalah pembahasan tentang wanguntur, alun-alun ibu kota Majapahit, yang di gambarkan sebagai ruang publik multifungsi: tempat rakyat berkumpul, upacara di gelar, dan perdagangan berlangsung. Bukan sekadar lapangan kosong, wanguntur adalah jantung sosial dan spiritual kota ruang di mana kekuasaan bertemu rakyat, dan sakralitas menyatu dengan aktivitas duniawi.

Munandar juga memperkenalkan delapan pilar kejayaan Majapahit yang dirangkai dalam bagan segi delapan: pemerintahan efektif, hukum maju, seni budaya, ekonomi maritim, arsitektur canggih, pendidikan, diplomasi, dan spiritualitas. Pilar-pilar ini bukan hanya idealisme, tetapi refleksi dari pencapaian nyata yang didukung oleh data arkeologi mutakhir. Artefak dari situs-situs di Jawa Timur yang menunjukkan bahwa Majapahit pernah menjadi pusat perdagangan Asia Tenggara yang setara dengan Tiongkok dan India.

Bagi saya, bab ini adalah ajakan untuk melihat sejarah bukan sebagai monumen beku, tetapi sebagai narasi hidup yang terus berbicara. Munandar mengajak kita untuk membaca masa lalu dengan mata yang peka dan hati yang terbuka bahwa di balik kejayaan Majapahit, ada sistem nilai yang kompleks, ada ruang publik yang inklusif, dan ada kesadaran spiritual yang mendalam. Dan mungkin, dalam membangun masa depan, kita perlu lebih banyak mendengar suara sastra, karena di sanalah jiwa sebuah peradaban bersemayam.

Kekuatan utama buku ini terletak pada kedalaman risetnya yang mengagumkan. Setiap halaman diperkaya dengan referensi yang tidak hanya memperkuat argumen, tetapi juga membuka jalan bagi pembaca yang ingin menggali lebih dalam. Lebih dari sekadar menyajikan data, buku ini berhasil merajut benang merah antara arkeologi, sastra, dan sejarah tiga bidang yang sering kali berjalan sendiri-sendiri, namun di sini berpadu dalam satu narasi yang utuh dan menggugah.

Namun, ada satu hal yang mengganjal: pilihan sampul buku yang menampilkan Candi Prambanan, ikon dari era Mataram Kuno, terasa kurang tepat. Bukan hanya tidak relevan dengan konteks Majapahit yang menjadi fokus utama buku ini, tetapi juga berpotensi membingungkan pembaca awam yang mencoba memahami lanskap sejarah secara kronologis dan geografis.

Meski begitu, nilai buku ini justru semakin terasa penting di tengah arus zaman. Di era ketika urbanisasi melaju tanpa rem dan identitas budaya kian tergerus, warisan Majapahit menawarkan pelajaran yang tak ternilai. Gagasan tentang kota sebagai ruang spiritual dan sosial dengan mandala sebagai prinsip tata ruang dan alun-alun sebagai pusat kehidupan komunal bisa menjadi cetak biru bagi pembangunan kota-kota masa depan di Nusantara.

Bayangkan jika para pemimpin kita membaca buku ini. Mungkin mereka akan mulai membayangkan kota bukan sekadar tumpukan beton dan jalan tol, tetapi sebagai ruang hidup yang bernafas, yang menyimpan denyut nadi leluhur dan merawat ingatan kolektif. Kota yang tidak hanya dibangun, tetapi juga ditumbuhkan dengan jiwa, dengan sejarah, dengan cinta.

Melalui riset yang tajam dan narasi yang hidup, Munandar membuktikan bahwa sejarah bukanlah benda mati yang tersimpan di rak, melainkan sumber inspirasi yang terus berdenyut. Ia menghidupkan kembali Majapahit bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai visi: tentang tata kota yang berjiwa, tentang kepemimpinan yang berakar, tentang Nusantara yang tahu dari mana ia datang dan ke mana ia hendak pergi.

Ibukota Majapahit bukan sekadar buku sejarah!!! ia adalah cermin bagi bangsa yang ingin bangkit, dan kompas bagi mereka yang mencari arah di tengah kabut globalisasi.

Saya merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang haus akan narasi kejayaan Indonesia, dari mahasiswa yang sedang membentuk cara pandangnya, hingga pembuat kebijakan yang menentukan arah bangsa. Karena di tengah arus modernisasi yang sering mengikis identitas, karya ini mengingatkan kita tentang kebesaran sejati tidak dibangun di atas permukaan, tapi tumbuh dari akar yang dalam.

Refrensi Buku: Munandar, Agus Aris. 2008, Ibu Kota Majapahit, Masa Kejayaan, Dan Pecapaian, Depok: Komunitas Bambu.

Belum Ada Komentar
HOME MENU Cari produk...
Admin LSSK Murtasiya
Admin LSSK Murtasiya
Saya siap membantu untuk menerbitkan dan pembelian buku yang tepat sesuai budget dan kebutuhan anda
Buku Filsafat Politik
Soft Cover
IDR 50.000
Buku Mulla Sadra
Soft Cover
IDR 58.000
Filsafat Timur Bukan Untuk Pemalas
Soft Cover
IDR 97.000
Lonely Star
Soft Cover
IDR 66.000
Teori Sosiologi Klasik
Soft Cover
IDR 86.000
Jihad: Sejarah Pergulatan Perang Suci Islam dan Barat
Soft Cover
IDR 50.000
Harga Sebuah Percaya
Soft Cover
IDR 86.000
Kisah Sosiologi
Soft Cover
IDR 93.000
Sejarah Kelas Menengah
Soft Cover
IDR 51.500
Hermeneutika dan Ilmu-ilmu Humaniora
Soft Cover
IDR 102.000
Bangsa-Bangsa Kulit Berwarna Sejarah Masyarakat Dunia Ketiga
Soft Cover
IDR 169.000
Jangan Pernah Berhenti Belajar Rahasia Besar Kejayaan Umat
Soft Cover
IDR 50.000
Takhta Kerajaan-Kerajaan Jawa
Soft Cover
IDR 50.575
The Financier: Tentang Kekayaan, Kekuasaan, dan Ambisi Manusia
Soft Cover
IDR 93.500
Pribumi, Minoritas Tionghoa, Dan China
Soft Cover
IDR 127.500
Identitas Politik Umat Islam
Soft Cover
IDR 76.500
Teori Sosiologi Antropologi
Soft Cover
IDR 71.500
BAYANG-BAYANG TOLERANSI: Entitas Lokal Dalam Wujud Beragama
Soft Cover
IDR Open P.O.