Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)
Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)
REVIEW BUKU: RAJA AIRLANGGA: Biografi Raja Pembaru Raja Abad XI
Mahasiswa Sejarah
Raihan Ismail Adi Nasahuddin
Pendahuluan
Melihat Bayang-Bayang Raja Pembaru Melalui Lensa Biografi
Sebuah peristiwa di Jawa sekitar abad ke-XI, di mana sungai-sungai Brantas mengalir deras membawa rahasia kerajaan yang hancur lebur oleh bencana dan pengkhianatan. Kepenulisan buku ini di mulai dari sebuah kerajaan yang runtuh, seorang pemuda bernama Airlangga bangkit, ia bukan hanya sebagai pewaris takhta yang sah, melainkan sebagai harapan yang terpilih oleh rakyat dan para pemuka agama. Saat saya membuka halaman pertama buku Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI karya Ninie Susanti, saya seolah terhisap ke dalam pusaran sejarah itu. Buku ini, di terbitkan oleh Komunitas Bambu pada 2010, merupakan rekonstruksi hidup yang penuh denyut nadi, di bangun dari prasasti-prasasti batu dan perunggu yang berbisik tentang kebesaran masa lalu.
Ninie Susantie seorang arkeolog terlatih dalam bidang epigrafi. Sang penulis mengajak pembaca menyelami empat pilar kehidupan bernegara, sosial, ekonomi, politik, dan agama yang di reformasi oleh Airlangga, hingga kerajaannya Kahuripan menjadi mercusuar bagi raja-raja selanjutnya di Janggala dan Panjalu. Dalam artikel ini, saya akan meriview buku ini sambil menyisipkan pendapat pribadi saya sebagai pembaca yang haus akan pelajaran sejarah untuk masa kini. Mari kita susuri bab per bab, seperti Airlangga menyusuri sungai kehidupan kerajaannya.
Bab I: Airlangga
Lahirnya Seorang Pewaris Tak Terduga
Cerita di mulai seperti dongeng epik, tapi berakar pada prasasti Pucangan yang menjadi jantung buku ini. Penulis di sini, membuka narasi dengan kelahiran Airlangga pada akhir abad ke-10, putra Udayana dari Bali dan mahkota Kerajaan Medang yang gemilang. Saya membayangkan pemuda itu, berusia 16 tahun, dikirim ke Jawa untuk dinikahkan dengan Galuh Sekar, putri Raja Dharmawangsa Teguh, yakni untuk menjalani sebuah ikatan politik yang seharusnya mengukuhkan aliansi. Namun, Susanti dengan cerdik mengungkap ironinya. Airlangga bukanlah pewaris langsung, ia adalah “raja yang di kehendaki rakyat”, lahir dari rahim sejarah yang penuh gejolak. Melalui bacaan prasasti berbahasa Sansakerta, penulis merekonstruksi bagaimana Airlangga mewarisi kerajaan yang hancur, bukan dari ayahnya, tapi dari kehendak dewa dan rakyat.
Susanti merujuk 33 prasasti, termasuk yang terpenting dari Pucangan, yang menggambarkan silsilah Airlangga dari Mpu Sindok pendiri Dinasti Isyana. Namun, sebagai opini saya, narasi ini terlalu bergantung pada mitos agama Hindu-Buddha, membuatnya terasa romantis berlebih. Di mana suara rakyat biasa? Apakah Airlangga benar-benar “terpilih” atau hanya proyeksi elit? terkadang, ini membuat saya bertanya, Apakah buku ini merepresentasikan sejarah dari atas ke bawah, atau justru memperkuat narasi kerajaan yang patriarkal?
Bab II: Badai Pralaya
Menyapu Kerajaan
Seperti gelombang tsunami yang tak terduga, bab kedua membawa pembaca ke pusat tragedi, yakni serangan Wurawari pada 1006 M, yang menghancurkan ibu kota Watu Galuh tepat saat pernikahan Airlangga. Susanti menggambarkan “pralaya“. Kehancuran akhirat yang digambarkan dalam kakawin seperti Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa sebagai metafor bagi invasi itu, di mana Raja Dharmawangsa tewas dan kerajaan Medang runtuh. Airlangga, yang selamat, melarikan diri ke hutan, bertapa di Gunung Pucangan (kira-kira di Jombang), bersemayam dan ingin mencari petunjuk ilahi. Narasi ini hidup, seolah saya mendengar gemuruh pedang dan jerit rakyat yang tercerai-berai.
Dari sini, penulis memang sangat brilian dalam mengintegrasikan sumber sastra dan arkeologi, menjadikan pralaya bukan sekadar bencana, tapi katalisator reformasi. Namun, di sini terlihat kelemahan buku, kurangnya perspektif arkeologi modern, seperti analisis isotop untuk rekonstruksi migrasi pasca-invasi. Opini saya, bab ini terlalu dramatis, mirip novel sejarah, yang mungkin mengaburkan fakta. Tapi justru itu kekuatannya membuat sejarah terasa dekat, mengingatkan kita pada bencana alam masa kini seperti tsunami 2004, di mana pemimpin seperti Airlangga dibutuhkan untuk bangkit dari puing.
Dari reruntuhan, Airlangga bangkit sebagai pemersatu. Bab ini menelusuri reformasi sosialnya: pembangunan desa-desa mandiri (Simantirja), sistem gotong royong untuk irigasi, dan pemberdayaan perempuan melalui peran ratu seperti Mahendradatta. Penulis di sini, sepertinya dengan teliti, mengurai prasasti Turun Hyang yang menggambarkan bagaimana Airlangga mendistribusikan tanah untuk rakyat jelata, menciptakan harmoni sosial yang menjadi model bagi kerajaan selanjutnya.
Bagi saya, pendekatan ini cukup sistematis, tapi terlalu optimis. Di mana bukti konflik internal, seperti pemberontakan petani akibat pajak? Sebagai opini, buku ini ideal untuk memahami akar gotong royong Indonesia modern, tapi penulis di sini gagal menyoroti bagaimana reformasi ini masih eksklusif bagi kelas bangsawan. Ini pelajaran berharga, di mana sosialisme kerajaan Airlangga bisa jadi inspirasi bagi kebijakan desa hari ini, tapi tanpa inklusivitas penuh, ia rentan retak.
Bab IV: Reformasi Ekonomi
Dari Reruntuhan Menuju Kemakmuran
Bayangkan pasar-pasar di Kahuripan yang ramai, dengan rempah dari Bali dan gading dari Sumatra mengalir deras berkat pelabuhan-pelabuhan baru. Bab ini adalah puncak narasi ulang penulis, di mana Airlangga merevitalisasi perdagangan melalui jaringan irigasi Subak-inspired dan mata uang standar, membuat Jawa menjadi pusat ekonomi Asia Tenggara. Prasasti Desawarnana menjadi saksi bagaimana ia membangun bendungan dan jalan raya, mengubah tanah gersang menjadi lumbung padi.
Secara kritis, bab ini solid dengan data epigrafi, tapi opini saya, Penulis di sini kurang membahas dampak eksploitasi buruh, Apakah kemakmuran itu merata atau hanya untuk elit? Ini mengingatkan pada globalisasi hari ini, seakan reformasi ekonomi Airlangga sukses, tapi tanpa keadilan sosial, boleh jadi ia bisa jadi bom waktu. Buku ini membuka mata saya pada potensi Jawa sebagai powerhouse ekonomi abad pertengahan.
Bab V: Dinamika Politik
Menaklukkan Pesaing dan Membangun Hegemoni
Politik Airlangga adalah tarian pedang dan diplomasi. Penulis menarasikan bagaimana ia menyingkirkan penguasa daerah saingan, membagi kerajaan menjadi Janggala dan Kediri pada 1045 M, sambil menjaga keseimbangan dengan vassal seperti Sunda. Gelar panjangnya, Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa, sebuah simbol kekuasaan absolut yang di bangun dari nol.
Analisis kritis, Kuat dalam kronologi, tapi terlalu glorifikasi. Di mana analisis Machiavellian-nya? Opini saya, pembagian kerajaan itu bijak tapi egois, mungkin untuk menghindari perang saudara. Ini relevan untuk politik Indonesia kontemporer. Airlangga mengajarkan bahwa hegemoni dibangun dengan campuran kekerasan dan visi, tapi buku ini kurang mendalami etika itu.
Bab VI: Dimensi Agama
Sinkretisme sebagai Pilar Kekuasaan
Agama bagi Airlangga adalah jembatan ilahi. Bab ini mengeksplorasi bagaimana ia mendirikan candi-candi seperti Chandi Panataran, memadukan Hindu-Siwa dengan Buddha, dan mendukung brahmana untuk legitimasi. Susanti ungkap peran bertapanya di Pucangan sebagai momen pencerahan, di mana dewa-dewa “memilihnya” sebagai raja suci.
Dalam Narasi ini menurut saya indah, tapi terlalu teologis, mengabaikan konflik sektarian. Opini saya, sinkretisme Airlangga adalah model toleransi multikultural Indonesia, tapi penulis di sini seharusnya bandingkan dengan fanatisme hari ini. buku ini jadi pengingat bahwa agama bisa menyatukan, bukan memecah.
Bab VII: Warisan Abadi
Pengaruh ke Asia Tenggara dan Selatan
Pada bab ini, penulis menuturkan bagaimana model pemerintahannya diadopsi di Siam dan India Selatan, melalui perdagangan dan diplomasi. Kerajaan singkatnya (1019-1045 M) meninggalkan jejak di prasasti-prasasti yang menginspirasi Majapahit.
Namun, Bab ini ambisius, tapi bukti pengaruh ke luar negeri lemah, cenderung lebih spekulatif. Opini saya, menempatkan Jawa sebagai pusat peradaban global, bukan pinggiran. Warisan Airlangga ajarkan resiliensi, relevan untuk diplomasi ASEAN modern.
Bab VIII: Kesimpulan
Pelajaran dari Raja Pembaru untuk Generasi Kini
Di akhir perjalanan ini, Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI bukan hanya buku sejarah, ia adalah cermin bagi kita. Ninie Susanti sang penulis berhasil merekonstruksi seorang raja yang dari Pralaya bangkit menjadi legenda, dengan reformasi yang menjadikan Kahuripan kerajaan besar. Secara keseluruhan, buku ini luar biasa dalam metodologi epigrafi, membuat sejarah terasa naratif dan hidup, tapi lemah dalam perspektif subaltern, suara rakyat biasa masih samar. Opini terakhir saya, di era ketidakpastian seperti sekarang, Airlangga mengingatkan kita bahwa pembaruan lahir dari kehancuran, asal dipimpin dengan visi inklusif. Buku ini wajib dibaca, bukan untuk nostalgia, tapi untuk membangun Jawa dan Indonesia yang lebih kuat. Seperti sungai Brantas yang tak pernah kering, warisannya mengalir terkenang abadi.
[…] Baca juga: Kerajaan Airlangga […]