Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)
Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)Selamat Datang di Penerbit LSSK Murtasiya
(Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)
Di era modern yang terdominasi oleh kemajuan teknologi, pendidikan bergerak menuju paradigma baru yang memprioritaskan kecepatan informasi ketimbang kedalaman analisis. Tren ini terlihat dari penggunaan platform digital sebagai sumber utama pembelajaran, mengabaikan metode ilmiah yang membutuhkan validasi dan pembuktian. Sehingga daya tarik informasi instan kini sering menggeser peran esensial verifikasi fakta yang dulu di junjung tinggi.
Contoh mencolok adalah fenomena “edutainment,” di mana video-video pendek dengan gaya visual yang memikat di media sosial menjadi sumber utama bagi banyak pelajar. Informasi yang tersampaikan kadang berdasarkan opini tanpa dasar ilmiah, namun tetap di terima karena viralitasnya. Sebuah video yang mendukung teori konspirasi mungkin lebih populer dari pada materi pendidikan resmi, yang akan mengubah preferensi pelajar dan masyarakat.
Lebih jauh lagi, ketergantungan terhadap teknologi digital membuka celah bagi eksploitasi informasi sebagai alat politik. Misalnya, dalam beberapa kasus, algoritma platform belajar dapat di arahkan untuk mempromosikan narasi tertentu, tanpa di sadari oleh pengguna. Propaganda politik terselubung dalam bahan pembelajaran ini perlahan-lahan membentuk sudut pandang pelajar tanpa memberi kesempatan untuk berpikir kritis.
Namun, tren ini juga membawa tantangan dan peluang bagi pendidik. Bagaimana memastikan bahwa pendidikan berbasis digital tetap mempertahankan integritas metode ilmiah di tengah arus informasi yang begitu masif?
Fenomena “edutainment” di dunia digital telah merubah cara orang mengakses dan menyerap informasi, terutama di dunia pendidikan. Namun, di balik segala kemudahannya, ada tantangan besar yang mulai terasa. Semakin banyak orang memilih informasi populer yang mudah di cerna daripada mempelajari pengetahuan mendalam dari para ahli. Maka, semakin banyak pula matinya kepakaran seseorang dalam bidang tertentu.
Misalnya, seorang ahli sejarah dengan puluhan tahun riset mendalam kini harus bersaing dengan konten video pendek yang sering kali menyajikan narasi sepotong-sepotong. Alih-alih menghormati fakta yang teruji, publik lebih tertarik pada teori yang sensasional dan viral. Akibatnya, otoritas keilmuan dari seorang ahli sering kali terpinggirkan, bahkan di ragukan, di tengah kebisingan informasi instan.
Matinya kepakaran ini juga terpicu oleh algoritma platform digital yang mengedepankan konten populer daripada yang berkualitas. Dalam pendidikan, bahan ajar yang berisi opini tanpa dasar ilmiah bisa lebih mudah di akses di bandingkan publikasi akademis. Akibatnya, pelajar dan masyarakat lebih sering mengandalkan “guru online” yang tidak memiliki kredibilitas di bandingkan belajar dari pakar berpengalaman.
Fenomena ini menjadi pertanyaan: Apakah pendidikan masih bisa melahirkan generasi yang menghargai keilmuan dan kepakaran, atau kita akan semakin jauh dari esensi ilmu itu sendiri?
Tom Nichols dalam buku The Death of Expertise adalah cerminan dari perubahan besar dalam cara masyarakat modern memandang otoritas keilmuan dan bukti. Dalam buku tersebut, Nichols mengungkapkan bahwa penurunan kepercayaan terhadap para ahli dan meningkatnya penolakan terhadap fakta adalah hasil dari kombinasi beberapa faktor, termasuk kemudahan akses informasi melalui internet, meningkatnya individualisme, dan budaya anti-intelektualisme.
Kembali lagi di dalam sebuah fenomena melalui tren “edutainment” yang mengutamakan popularitas konten daripada kualitasnya. Platform digital sering kali mempromosikan informasi yang sensasional dan mudah di cerna, mengabaikan validasi ilmiah yang menjadi dasar keilmuan. Hal ini menimbulkan ilusi bahwa membaca artikel atau menonton video singkat cukup untuk menjadi ahli, tanpa memahami kompleksitas bidang tersebut
Kecendrungan yang berlebihan di dalam mempercayai sebuah opini sesuai pandangan daripada fakta yang telah di sampaikan para ahli. Demikian juga di perkuat oleh algoritma media sosial yang memprioritaskan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna. Akibatnya, masyarakat semakin terpolarisasi dan sulit menerima pandangan yang berbeda, bahkan jika pandangan tersebut di dukung oleh bukti yang kuat.
Fenomena ini memiliki dampak serius pada pendidikan dan pengambilan keputusan publik. Ketika kepercayaan terhadap para ahli menurun, kebijakan yang di ambil sering kali di dasarkan pada informasi yang tidak akurat atau bias. “The death of expertise is not just a rejection of existing knowledge. It is fundamentally a rejection of science and dispassionate rationality, which are the foundations of modern civilization.” Apa yang di tulis oleh Nichols, setiap pernyataan dari beberapa pendapat ahli—memicu ledakan kemarahan dari kalangan masyarakat. Nichols menambahkan, “immediately complain that such claims are nothing more than fallacious “appeals to authority,” sure signs of dreadful “elitism.”
Dalam dunia pendidikan, Nichols menyoroti bahwa pendidikan tinggi seharusnya membebaskan dari kepercayaan yang keliru—bahwa semua orang memiliki tingkat kecerdasan yang sama. Hal demikian pula mengantarkan di dalam dunia pendidikan yang hanya memuaskan terhadap pihak konsumen. Apa yang di katakan sebagai “Higher Education: The Customer Is Always Right” , kini lebih sering dipandang sebagai layanan yang harus memenuhi keinginan kaum pelajar sebagai “pelanggan”.
Perubahan ini terjadi ketika dalam sebuah institusi tinggi lebih mengutamakan fasilitas mewah yang berorientasi menarik minat pelajar tanpa mengutamakan kedalam fungsi intitusi sebagai “a place to pursue profound knowledge and intellectual development.” Sehingga, hal ini secara tidak langsung mengurangi kontribusi dan penurunan kehormatan terhadap kepakaran dan fakta. Tentu, kali ini Nichols mengupayakan isntitusi pendidikan lebih seharusnya menekankan pentingnya proses pembelajaran yang mendalam dan menghargai minat keilmuan. Bukan layanan yang harus memenuhi ekpektasi. Dan yang perlu di garisbawahi adalah pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang tentunya memerlukan waktu yang cukup panjang dalam mengembangkan minat dan dedikasi yang tinggi.
Sementara itu, tingkat percepatan informasi sebagaimana yang telah di paparkan pada bagian awal, seolah menggerogoti tingkat kepercayaan kepada para ahli akibat dari adanya percepatan mesin ketik yang akan menampilkan berjuta-juta kali informasi. Dalam hal ini, Nichols mengajak untuk berulang-ulang berpikir dua kali dalam pencarian informasi melewati mesin ketik. Bayangkan saja, ketika kita akan mencari sebilah informasi mengenai siapa itu Plato? Maka tidak ada satupun yang hilang dari pandangan berkaitan dengan dia. Mulai dari riwayat hidupnya, pemikirannya, pendidikannya, bahkan sampai pada kematiannya.
Saya tidak sedang mengajak anda untuk menari memakai kain piyama di atas ranjang, tersenyum lebar sembari mengatakan “Akulah Arjuna”. Namun, marilah kita merefleksikan diri dengan tidak tetap menerima mentah-mentah sejuta informasi. Mengutip dari buku The Death of Expertise:
“Although the Internet could be making all of us smarter, it makes many of us stupider, because it’s not just a magnet for the curious. It’s a sinkhole for the gullible. It renders everyone an instant expert. You have a degree? Well, I did a Google search!.”
Frank Bruni
Terlepas dari apa yang telah di bayangkan di atas, persoalan apapun akan mudah terselesaikan. Tidak ada yang namanya perkataan maupun argumentasi yang belum terselesaikan. Aktor menarik seperti James Bond dengan segala kegeniusannya, Charlie Chaplin dengan candaannya, Mike Tyson dengan kekuatannya, tidak lebih dari sekedar 0,52 detik akan muncul di beranda pencarian. Semua orang di tempat tidur dapat mengeluarkan ponsel dan memverifikasi atau bahkan menyangkalnya.
Apa yang kita cari misalkan “Bagaimana mengatasi sakit dada?” atau “Apa penyebab dada itu sakit?”, mungkin akan keluar jawaban yang berbeda di mesin pencarian google, namun pada bagian akhir setidaknya akan di paparkan tips ataupun cara mengatasinya. Disini, permasalahannya bukan terletak pada percepatan akses informasi akan tetapi mempercepat runtuhnya komunikasi kepada para ahli dengan orang awam dengan menawarkan jalan pintas menuju pengetahuan. Apa yang di katakan oleh Frank Bruni di atas, boleh jadi merupakan jalan pintas dari “Indulge in the illusion of knowledge because of the infinite supply of facts.”
Salah satu langkah yang Nichols tekankan adalah pentingnya pendidikan yang berkualitas, dan mampu membekali individu dengan kemampuan berpikir kritis. Dengan kemampuan ini, masyarakat terutama kaum pelajar dapat membedakan antara fakta yang valid dan opini yang tidak berdasar. Dorongan ini menyasar pelajar, masyarakat umum, dan ahli agar aktif menyederhanakan ilmu melalui institusi pendidikan yang mendukung akses luas.
Melibatkan kemampuan untuk menyampaikan pengetahuan kompleks dalam format yang sederhana dan mudah di pahami, tanpa mengorbankan akurasi atau kedalaman informasi. Para ahli bisa menggunakan platform digital untuk menyajikan konten edukatif berkualitas yang menarik dan mudah di akses, sehingga dapat menyaingi tren edutainment tanpa validasi ilmiah. Pemanfaatan platform ke ranah edukasi yang sederhana, tentunya dapat berpengaruh dan mengatasi ancaman hilangnya diskusi-diskusi berbasis fakta.